Jumat, 19 April 2013

Wawancara HR Tilaar (1) UN Lebih Banyak Mudarat Ketimbang Manfaat

Wawancara HAR Tilaar (1)

Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat

Reporter : Islahudin, Alwan Ridha Ramdani
Jumat, 19 April 2013 07:00:00
Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat
Pakar pendidikan Henry Alexis Rudolf Tilaar. (merdeka.com/dok.)


Menurut pakar pendidikan Henry Alexis Rudolf Tilaar, pemerintah saat ini tidak memiliki komitmen memperbaiki mutu pendidikan. Bahkan mereka dinilai tidak memiliki konsep jelas dan menyeluruh soal pendidikan Indonesia ke depan.

Konsep ujian nasional diprotes sejak 2006 tidak ada dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Meski begitu, pemerintah tetap melaksanakan. Ujian nasional kerap dirundung masalah, bahkan tahun ini bisa disebut pelaksanaan terburuk.

Tilaar menegaskan keterlambatan pelaksanaan ujian nasional di sebelas provinsi menunjukkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh tidak becus.

Berikut petikan wawancara Tilaar dengan Islahuddin dan Alwan Ridha Ramdani dari merdeka.com pada Selasa (16/4) siang di kediamannya yang asri di bilangan Patra Kuningan Utara, Jakarta Selatan.

Bagaimana Anda melihat pelaksanaan ujian nasional tahun ini?

Sejak 2006 saat ujian nasional muncul, saya sudah tidak sependapat. Bahkan saya gugat sampai Mahkamah Agung, tapi keputusannya tidak digubris oleh menteri pendidikan dan kebudayaan.

Pendapat yang mana Anda maksud?

Pendapat itu saya tuangkan dalam buku Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis. Di situ saya tulis dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ujian nasional tidak dilaksanakan lagi. Tapi di lapangan, ujian nasional jalan terus karena dananya sudah ada.

Terus apa yang salah dari ujian nasional ini?

Yang saya persoalkan, apa sebenarnya tujuan dari ujian nasional? Apakah menghakimi anak atau meningkatkan mutu pendidikan nasional. Ini dua masalahnya. Pada 2006, ini menjadi polemik di surat kabar. Katanya ujian nasional bisa meningkatkan mutu pendidikan nasional, tapi yang terjadi malah memunculkan nilai-nilai negatif dalam pelaksanaan.

Saya pernah bicara di Yayasan Air Guru di Medan. Saya bicara atas undangan mereka dihadiri 1.200 guru Sumatera Utara. Ada kasus terjadi di sana, guru mau jujur dalam pelaksanaan ujian nasional malah dipecat. Tahun lalu, ada anak mengajak temannya jujur malah dipermasalahkan sampai ibunya dikucilkan dari kampung. Inilah akibatnya, yang jujur hancur. Inilah ekses-ekses ujian nasional menghakimi anak.

Jadi efek negatifnya lebih banyak?

Nilai-nilai negatif itu banyak muncul di situ. Terjadinya pembocoran jawaban. Malahan saya ingat pada 2006, polisi membawa lembar ujian. Setelah diprotes, kemudian diganti dosen atau pengawas, tapi itu tidak menyelesaikan masalah.

Apa saja masalah lainnya menurut Anda?

Kepala dinas itu menyuruh kepala sekolah meluluskan seratus persen. Ada target di situ. Kenapa? Kepala sekolah di bawah kepala dinas. Sedangkan kepala dinas ini bawahannya bupati. Sedangkan bupati bilang kalau tidak lulus maka akan dipindahkan. Apalagi banyak dari mereka itu tim sukses bupati, jadinya pokoknya lulus seratus persen.

Apa Anda pernah menemukan efek buruk dari ujian nasional ini?

Ada seorang mahasiswa unggulan lulusan ujian nasional masuk ITB. Tetapi dia tidak bisa mengikuti pelajaran sehingga terus mengulang. Dia tidak bisa dikeluarkan karena sudah mendapatkan beasiswa dari daerah. Tetapi di daerah-daerah itu lulus seratus persen. Ini adalah ekses-ekses. Ujian nasional bukan untuk membantu anak tetapi menghakimi anak.

Jadi memang ujian nasional tidak memiliki peran dalam peningkatan mutu pendidikan nasional?

Saya lebih sepakat menggunakan istilah evaluasi proses pendidikan. Sebab ujian itu sesuatu yang sesat. Sedangkan pendidikan di sekolah itu suatu proses dan proses ini sangat panjang. Maka yang tahu proses ini adalah guru, bukan menteri. Jadi yang mengevaluasi proses belajar itu harus sekolah. Tapi ini dihilangkan oleh ujian nasional. Kita lihat misalnya anak-anak kelas enam SD atau kelas tiga SMP dan SMA, pelajarannya adalah mempersiapkan mata pelajaran ujian nasional. Yang tidak diujikan dalam ujian nasional tidak dipelajari.

Ini berakibat pada merosotnya nasionalisme anak-anak Indonesia. Sebab sejarah tidak dimasukkan, geografi juga tidak dimasukan. Jadi anak-anak kita tidak tahu apa itu Sabang sampai Merauke. Anak-anak tidak tahu perjuangan bangsa Indonesia ini.

Suatu ketika saya pernah bertemu anak orang kaya. Anak itu saya tanya siapa Soekarno? Jawaban anak itu, Soekarno adalah anak Hatta. Jawaban itu karena dia sering bolak-balik ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Bagaimana pendapat Anda tentang kacaunya ujian nasional tahun ini?

Kemarin saya di telepon oleh adik-adik saya di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Mereka bilang begini, kami ini pengawas dari Universitas Tadulako, kita sudah sampai di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Kami dapat uang jalan untuk delapan hari. Sudah empat hari kami di sini menunggu ujian, ternyata diundur. Kami harus bagaimana? Saya perintahkan pulang saja, ini adalah mismanajemen dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka ngotot ujian nasional tetap dijalankan.

Seberapa kecewa Anda dengan pelaksanaan ujian nasional tahun ini?

Lihat saja, sejak 2006 saya sudah menulis, tapi tidak mau dibaca oleh menteri. Mereka itu sudah dikuasai falsafah positivisme, segala sesuatu bisa dihitung. Itu tidak bisa jadi kebijakan. Anak didik ini bukan barang produksi, dia adalah anak Indonesia. Dia punya perasaan, punya pikiran, harus kita bawa menjadi manusia Indonesia, bukan robot.

Bagaimana dengan ujian nasional yang molor di sebelas provinsi?

Saya katakan ini mismanajemen. Jauh-jauh hari sudah ditetapkan dan pemilihan percetakan, apakah benar-benar mumpuni. Ternyata percetakannya konyol, tidak sanggup. Makanya, ini mesti diteliti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kementerian Keuangan, apa yang terjadi di sana.

Apa tidak cukup investigasi internal kementerian?

Ya internal juga, terutama dalam pemilihan percetakan. Misalnya begini, kenapa harus dicetak di Jawa, apakah di provinsi itu tidak memiliki percetakan? Di beberapa provinsi ada percetakan negara, kenapa tidak menggunakan itu. Kalau menggunakan percetakan negara, jelas mereka tidak mendapatkan uang. Masak, sudah 68 tahun merdeka, daerah tidak punya percetakan. Ini aneh.

Pendidikan sudah jadi permainan politik. Ini korupsi. Contohnya juga bisa dilihat dalam pembuatan kurikulum. Saat uji publik kurikulum baru, saya protes. Itu tidak ada dalam Rencana Strategis 2009-2014 kementerian. Di situ disebut tidak ada pergantian kurikulum.

Menteri pendidikan dan kebudayaan bilang alasannya Keppres nomor 10 soal Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Saya bilang begini, Keppres itu lebih rendah dari undang-undang. Saya bicara begitu, malah Menteri Nuh kabur. Padahal saya diundang untuk uji publik, artinya publik yang menguji.

Biodata

Nama:
Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf Tilaar., M. Sc. Ed

Tempat dan Tanggal Lahir:
16 Juni 1932

Istri:
Martha Tilaar

Pendidikan:
Sekolah Pendidikan Guru, Bandung (1950-1942)
Ijazah Pedagogi, Bandung (1957-1959)
Sarjana, Universitas Indonesia (1961)
Master of Sciense of education, Universitas Chicago (1967)
Doctor of education, Universitas Chicago (1969)

Karier:
Guru Sekolah Rakyat, Bandung (1952)
Guru Besar Emeritus, Universitas Negeri Jakarta
Anggota Dewan Riset Nasional (1994-2004)
Staf inti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (1970-1993)
Asisten Menteri Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia

Senin, 08 April 2013

Naik Kereta Bandung - Purwakarta PP 1

 
Jeda kemarin kami mengajak murid2 naik kereta. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang kulakukan secara insidentil tidak terencana dan dalam rombongan kecil, tahun ini kami melaksanakannya secara masif. Tadinya hanya 5 kelas saja, kelas 1a, 1b, 2a, 2b dan 3b. Aku di kelas 3b. Kelas lain katanya mau ke kebun binatang. Begitu terbayang asyikya naik kereta mereka malah pingin semua naik kereta api. Jadi deh 10 kelas. Tadinya ortu, adik, kakak, saudara bisa ikut jadi ditahan jangan boleh.

Reservasi  
Masuk ke dalam kereta, sekalian membuktikan bahwa WC kereta dibuangnya ke rel hehe...

Kereta yang di belakang itu yang besok kita naiki

Beberapa hari sebelumnya kami melakukan reservasi dulu ke Stasiun Bandung. Petugas di situ bilang dia pernah bawa 170 orang muat dalam 1 gerbong tidak terlalu berjejal. Jadi patokannya hanya 340-350 orang yang bisa ikut pergi. Pulang. Tapi foto-foto dulu :)


Besoknya di sekolah dihitung secara global ternyata peserta yang ingin ikut itu jumlahnya sudah 350 orang, belum termasuk guru, dan beberapa anak yang masih menimbang-nimbang, juga orang tua yang tidak tega melepas anaknya sendirian. Maklum Bandung - Purwakarta kan jauh, apalagi bagi anak kelas 1-3 SD. Jadi pasti bertambah. Akhirnya setelah tahan sana tahan sini dipaksa sana dipaksa sini peserta sampai berjumlah 380 orang.

Waktu keberangkatan hari Kamis 28 Maret 2013 diambil karena besoknya libur jadi ada kesempatan buat istirahat. Semua harus ada di sekolah paling siang jam 6.30 supaya bisa jam 7.00 berangkat. Meski kereta Cibatu-Purwakarta sampai stasiun Bandung pukul 8.25 keberangkatan harus lebih awal untuk mengantisipasi kemacetan. Maklum pergi dengan 25 angkot bukan masalah sederhana pengaturannya juga bukan?

Hari H dimulai dengan semangat. Akhirnya kelasku membawa 34 orang dengan 29 anak dan sisanya orang tua dan adik. Kelas lain biarlah urusannya sendiri-sendiri hehe. Kami membariskan anak yang akan berangkat. Pak Asep memberi pengarahan seperlunya, memimpin doa dan memberi aba-aba tiap barisan untuk masuk ke angkot yang sudah tersedia.
 



Pak Asep memberikan pengarahan sebelum berangkat



Kelas 3 masuk ke 2 angkot. Dijejal sih, tapi muat-muat saja tuh. Angkot yang satu diisi murid dengan ortunya. Satu lagi diisi murin yang tidak didampingi ortu dan saya gurunya. 
 
Ibu Bety dan Ibu Wiwin gendong Amira di belakang


Ibu Ida

Ibu Yuli

Ibu Ina yang sudah siap dengan bekalnya

Ibu Eulis sedang motret dipotret

Ibu Ai

Ortu yang merengek minta ikut alasannya anak. Padahal pingin aja naik kereta

Ibu Lia dan Ibu Ai

Sepanjang jalan mereka dengan ikhlas menyanyi nyanyi. Lagu yang kuajarkan di sekolah dinyanyikan semua. Rasanya banyak lagu yang kuajarkan tapi kalau dinyanyikan secara medley kok hanya menjangkau beberapa  ratus meter atau paling-paling 1km an. Dalam hati berjanji akan mengajarkan mereka lebih banyak lagi lagu anak. 





Bersyukur murid kelas 3 tidak ada yang mabuk darat, sehingga semua bisa menikmati perjalanan.

Melihat ini itu murid menunjuk dan memberi cerita, itu... aku pernah ke situ sama ayah atau eh itu rumah sakit deket rumah saudaraku dan seterusnya. Nyanyi lagi.
 
Sampai di Stasiun Bandung Pintu Selatan baru pukul 07.30, masih kepagian. Tapi angkot lain kan belum sampai. Sambil menunggu yang belum datang anak-anak yang sudah datang kami bariskan lalu disuruh duduk di lantai stasiun.




Mini Market di Sebelah Kiri Menerb

Mirip pemudik

Duduk dulu....

Melihat ke sana ke sini, terlihatlah oleh beberapa dari mereka sebuah mini market. Terbitlah keinginan mereka untuk membeli perbekalan yang dirasa kurang. Barisan jadi agak goyang. Kelihatannya seperti pemudik di menjelang lebaran.

Wali kelas 5A panik, sebagian anaknya belum datang. Mereka naik ke satu angkot pertama berangkat tapi belum sampai. Mungkin di stasiun utara, ada pendapat berkata. Atau mogok, pendapat yang lain. Coba ditelepon atau SMS, usul yang bagus. Setelah SMS dan telepon akhirnyaaaaa datang juga. Ternyata angkot itu isi bensin dulu, dan bukannya langsung ke stasiun malah kembali lagi ke sekolah. Sampai di sekolah sudah kosong tidak ada siapa-siapa. Yaiya semua sudah berangkat kan?

Jam 8 lebih petugas datang untuk memberikan pengarahan. Anak-anak berdiri. Setelah pengarahan, satu demi satu barisan digiring masuk ke dalam stasiun. 

Setiap terdengar kereta mau datang, semua berharap kereta itu yang akan membawa kita. Tapi belum  juga. Murid mulai resah, guru-guru juga. Apalagi setelah masuk emplasemen stasiun, tempat yang  paling dekat dengan kereta keresahan makin menjadi. 
 
duduk lagi


sempit emplasemennya


Anak yang mau pipis disuruh pipis dulu di toilet. Letaknya agak jauh, ketika datang kereta yang mau pipis balik lagi. Takut kereta yang datang itu yang akan membawa kita. Tapi bukan. Pergi lagi, karena sudah kebelet.

Akhirnyaa... datang juga kereta yang ditunggu-tunggu. Anak ditertibkan masuk ke dalam kereta. Bukan gerbong. Gerbong itu kereta pengangkut barang. Sedangkan untuk pengangkut orang disebut kereta. Kelas A menempati kereta 1, dan kelas B menempati kereta 2. Penumpang yang lainnya kelihatannya diusir dulu oleh petugas, kan kita sudah reservasi dua kereta. Anak-anak msuk lebih dahulu baru orang tua. Semua setuju, meski ada saja satu dua yang pingin belagak tidak tahu, tapi kemudian menurut karena yang lain memperingatkan. Guru masuk dulu untuk mengatur posisi dan strategi supaya masuk. Orang tua ada yang berdiri ada juga yang duduk. Sebetulnya karena mereka masih kecil-kecil masih longgar juga tidak sampai harus berdiri atau duduk di lantai. Masih mending lah daripada pemudik jaman dulu yang sampai masuk lewat jendela saking penuhnya. 








Bersambung


 


Sabtu, 30 Maret 2013

Jadi....?

Kulangkahkan kakiku ke luar pintu
Pertama kulihat awan seputih kapas arak berarak di langit luas
Lalu kucium aroma rumput dipotong yang khas

Dan telingaku mendengar ribut suara tonggeret pacaran di atas pohon jati dan mahoni
Tanda kemarau tepat waktukah?
Tapi Bandung Selatan di waktu malam hari masih banjir juga siang
Oh...

Jadi?

Jumat, 26 Oktober 2012

Facebook Bukan Cuma Buat Nampang

Agak terlambat saya posting ini sebetulnya. Fenomena facebook sosial media merambah orang tua, muda, miskin, kaya, high tech, gaptek, pinter maupun bodoh semua bikin akun FB. Posting ini terlambat karena FB sudah terlanjur ketinggalan jaman. Anak muda sudah beralih ke twitter. Mereka bahkan chat rame2 di twitter, sementara yang lainnya buka twitter mahlah bengong bingung mau apa. Tapi tidak mengapa, ini cuma sekedar kilas balik.

Sejak join FB di tahun 2009 saya mengajak teman2 guru SDN Harapan, dan tetangga bikin akun FB. Ajakan itu berbalas dengan permintaan mereka untuk dibuatkan akun FB. Kalau dihitung2 saya sudah membuatkan 25-30 akun email dan akun FB untuk teman2. Itu belum termasuk yang dibuatkan beberapa kali dengan alasan lupa password, salah nama, dll. Di media ada penjahat yang beraksi lewat FB dan katanya FB nya dibuatkan orang dengan membayar uang. Dengan beberapa puluh ribu penjahat itu minta dibuatkan akun FB lalu menipu.
Kalau saya dibayar wah... lebih dari lumayan buat beli pulsa.

Bagi pemula membuat akun FB dimulai dari membuat akun email. Karena pengaktifan akun FB kita dimulai dari mengklik link yang ada di email itu. Tanpa itu FB kita akan ngambang saja, seperti masuk tapi tidak bisa apa2.
Setelah itu kita bisa beraktifitas di FB, menambah-menghapus teman, mengintip isi pikiran orang, memandangi foto2 orang, dll.


Fungsi FB selalu bertambah dan berubah secara berkala.Fungsi yang sebenarnya mudah tapi orang tidak bisa melakukannya (ya setidaknya teman2 yang saya buatkan akunnya itu :D) adalah mengirim dan menerima file. Dulu saya membawa flash disk/CD RW untuk membawa data dari rumah ke sekolah. Misalnya ketikan soal ulangan, LKS, atau UKK/UAS yang akan diprin di sekolah, sekarang biasa kirim lewat FB. Termasuk kepada teman2 saya yang beberapa tadi. Ada teman yang bersikeras tidak bisa (kayaknya mereka ogah bisa saja ya). Ada juga yang bisa menerima, mengunduhnya lalu menindak lanjuti file yang diterimanya, tapi mengirimkannya masih bingung. Begitu selama 3 tahun ini.

Tadi sore ada SMS bahwa sambil mengurus hewan kurban sore ini, kami harus bawa flash disk untuk membawa isian format data baru yang harus dikumpulkan hari Senin lusa. Alhamdulillah, yang menugasinya tidak datang dalam pengurusan hewan kurban tadi, jadi masih gelap fungsi flashdisk tadi buat apa. Akhirnya sampai pada pembicaraan, bersahutan semua sepakat kalau mereka ingin file itu dikirim lewat FB saja. Hehehe... kemajuan yah. Sesuatu banget..

Memang sejak bulan April kemarin sekolah kami SDN Harapan pasang internet yang ber wifi. Di kelas manapun di sekolah kami terhubung dengan internet nirkabel dengan kecepatan lumayan. Mulanya kami hanya menggunakannya sesekali. Kalau sedang perlu gambar untuk buat soal, atau materi pelajaran menggunakan laptop sekolah. Bergantian, kadang berebut, kalau sama2 dikejar target soal ujian/ulangan. Tapi makin ke sini mereka makin menyadari manfaat internet ini. Kalau di rumah mereka bisa pakai modem colok itu (apa namanya ya, lupa), tapi di sekolah mereka bisa gratisan berinternet ria. Hanya masalahnya sedikit yang punya laptop. Punya pun berbagi dengan anggota keluarga masing-masing.

Suatu hari menjelang UKK, datanglah seorang sales lap top yang menawarkan cicilan lap top selama 2 tahun tanpa agunan. Sales gembira laptop jualannya laris seperti cilok goreng. Beberapa memilih netbook yang lebih kecil dan ringan, sehingga enak dibawa-bawa. Setelah itu penggunaan wifi di sekolah jadi bergairah. Di beberapa kelas guru menggunakan laptopnya sebagai ganti buku pelajaran. Lap top / netbook mereka sudah berisi juga administrasi kelas. Tinggal enak. Klik klik sedikit, buka deh file yang dibutuhkan.

Dengan adanya wifi dan laptop di mayoritas kelas ini pengiriman data lebih mudah lagi. Ada yang minta diajari caranya mengirim file, kan menerimanya sudah bisa sebelumnya. Ya, mengirim file tinggal buka kotak pesan, buat pesan baru, pilih nama tujuan penerima, pilih file yang akan dikirimkan. Tunggu sebentar, karena memuat file agak memakan waktu beberapa saat. Sampai keluar tanda klip yang menandakan file kita siap kirim. Klik kirim. Beres deh

FB yang biasanya hanya buat mencari teman lama bisa dimaksimalkan penggunaannya


Kemajuan di SDN Harapan ini saya pikir sangat menggembirakan. Sekarang guru yang belum punya lap top jadi kepanasan, kepingin punya lap topnya sendiri. Bagus deh kepanasan untuk hal yang baik kan bagus juga. Kepanasan untuk maju. :D


Jumat, 08 Juni 2012

Rindu Lagu Anak

Cerita 1
Lewat TK dekat sekolah kemarin di belakang penulis ada ortu murid ngobrol dengan sesamanya. Potongan dialognya kira-kira
Ortu 1 : jadi anakmu tampil di berapa acara?
Ortu 2 : nari aja dua kali
Ortu 1 : anakku tampil puisi sekali sama nari sekali
Ortu 2 : si Ade nari aja lagunya Cherrybelle dengan lagunya SMASH
Segitu saja yang terdengar karena langkahku cepat jadi mereka tertinggal di belakang

Cerita 2
Di sekolah penulis sering tinggal di kelas waktu istirahat, jajan sama dengan murid2 jajan. Sambil makan penulis mendengarkan mereka ngobrol, sesekali menimpali kalau ada yang menarik, kebanyakan sih mendengarkan saja. Di antara topik yang mereka bicarakan adalah tentang girl band Cherry Belle dan boyband SMASH. Mereka hafal tentang hal-hal kecil idola mereka itu.

Cerita 3
Di rumah, anak bungsuku juga mengidolakan kedua GB dan BB itu. Sangat mengidolakan. Dia bahkan merengek kepada kami orang tuanya agar mengantarkannya ke mall untuk nonton boyband itu sewaktu mereka manggung di kota kami.

Dari ketiga cerita itu aku sebagai orang tua dan guru jadi merasa prihatin. Mereka mengidolakan boyband girlband itu, tentulah karena kita sekarang defisit penyanyi anak-anak. Tidak ada lagu anak yang bisa dinyanyikan. Ada lagu anak yang dinyanyikan oleh anak dari penyanyi terkenal tapi kualitasnya parah. Tidak bsa dinyanyikan oleh orang lain karena menceritakan pemujaan mereka terhadap orang tua mereka. Ya, itu lagu buatan bapaknya yang narsis minta dipuji2 sama anaknya. Whew.. :(

Berbeda dengan dengan lagu dari GB/BB itu syairnya sangat kuat, memotivasi secara positif. Misalnya syair lagu Senyum Semangat SM*SH di antaranya:
">
Sempet ngerasa sedih karna sering di bully
Lelah jadinya malu karna dicibir mulu
Bukannya ku tak mendengar kata-kata yang kasar
Bukannya ku tak peduli semua caci dan maki.
...
Lalu ditutup dengan:
Tak peduli ku di bully omongan lo gw beli
Cacian lo gw cuci dengan senyuman prestasi
Tak pernah ku malu karna cibiranmu
Ku jadikan motivasi untuk maju

Positif sekali kan? Membangun. Bisa dinyanyikan oleh siapa saja, anak kecil sekalipun. Mengajarkan untuk tidak mem'bully' teman. Atau kalau di'bully' jangan putus asa.

Kedua, lagunya Cherry Belle 'Beautiful'

Don’t cry, don’t be shy
Kamu cantik apa adanya
Sadari syukuri dirimu sempurna
Jangan dengarkan kata mereka
Dirimu indah pancarkan sinarmu

You are beautiful, beautiful, beautiful
Kamu cantik cantik dari hatimu
You are beautiful, beautiful, beautiful
Kamu cantik cantik dari hatimu

Ah
kalau penulis mendengarkan lagu ini ketika kecil dulu, pasti aku kan tumbuh jadi anak yang percaya diri dengan semua apa adaku. Liriknya sangat membangun.

Tapi kenapa semua ini tidak terjadi pada lagu anak? Kenapa lagu anak syairnya malah memprihatinkan? Kenapa hasil lomba2 pencarian bakat tidak membuahkan era penyanyi anak baru?

Penulis tumbuh di tahun 70an di mana sedang banyak muncul anak dari penyanyi terkenal yang diorbitkan jadi penyanyi. Kehadiran Chicha Koeswoyo, Sari Yok Koeswoyo, Dina Mariana, Ira Maya Sopha, dllnya membuat kami merasa beruntung hidup di jaman itu. TVRI menayangkan video klip lagu-lagu mereka, di pasar dijual kaset-kaset sandiwara radio. Jadilah acara bermain kami dulu dihiasi dengan main drama-dramaan adegan dari video2 klip lagu itu. Kadang drama2an kami juga memvisualkan sandiwara radio: Bawang Merah Bawang Putih, Cinderella, Pinokio.

Masih ada potongan dialog yang masih menempel sampai saat ini seperti dialog Cinderella: "Sabar.. sabar.. tanganku hanya dua".

Atau Pinokio: "Lihat, ada bintang jatuh! Cepat, ucapkan permohonan! Aku ingin bonekaku..hidup!"
">

Belum lagi di TVRI dulu setiap hari Senin dan Selasa ada acara khusus untuk lagu anak, ciptaan Ibu Soed, Pak Kasur, AT Mahmud, dll. Hari Senin khusus untuk mengajarkan lagu anak yang baru, seperti Anugerah, Putri Malu, (penciptanya lupa), dengan pengajar Bu Fat. Hari Selasa khusus lomba menyanyi lagu anak2, pembawa acaranya Bu Mul. Kalau tidak salah Julius Sitanggang salah satu peserta yang jadi pemenangnya.

Di awal karirku sebagai guru, ada juga saat defisit penyanyi cilik dan lagu anak-anak. Lalu pengalaman berkesan jaman anak-anak itu kemudian penulis terapkan setelah menjadi guru. Lagu-lagu anak yang diterima dari Bu Fat, dan Bu Mul, diajarkan kepada murid-murid. Beberapa malah judulnya tidak diketahui karena namanya juga memori anak-anak, kami pilih bagian yang berkesannya saja ^_^. Misalnya lagu Udara Cerah(Judul? Pencipta?), Masa Gemilang, Tepuk Tangan, Putri Malu, dll penulis ajarkan kapada anak. Tujuannya supaya anak menyanyi lagu genrenya. Bukan lagu orang dewasa.

Saat tahun 90an bermunculan penyanyi cilik dan lagu anak barulah murid-muridku menyadari kalau lagu2 yang mereka pelajari saat SD itu bukan lagu ciptaanku. Dikira mereka lagu2ku itu bukan karya komponis hebat :D

Anak-anak yang merasakan era lagu anak di 90an boleh merasa beruntung, karena lagu2 yang tampil bagus2 dan berkualitas. Mulai dari lagu bebas, sampai lagu keagamaan/rohani.
Bersambung

Rabu, 30 Mei 2012

Tidak terlihat?

Ibu Guru menulis di papan tulis. Anak menyalinnya. Murid : Buuu, gak kelihataaaaaaaannn... Guru : Masak Ibu sebesar ini gak kelihatan ^_______^