Senin, 08 April 2013

Naik Kereta Bandung - Purwakarta PP 1

 
Jeda kemarin kami mengajak murid2 naik kereta. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang kulakukan secara insidentil tidak terencana dan dalam rombongan kecil, tahun ini kami melaksanakannya secara masif. Tadinya hanya 5 kelas saja, kelas 1a, 1b, 2a, 2b dan 3b. Aku di kelas 3b. Kelas lain katanya mau ke kebun binatang. Begitu terbayang asyikya naik kereta mereka malah pingin semua naik kereta api. Jadi deh 10 kelas. Tadinya ortu, adik, kakak, saudara bisa ikut jadi ditahan jangan boleh.

Reservasi  
Masuk ke dalam kereta, sekalian membuktikan bahwa WC kereta dibuangnya ke rel hehe...

Kereta yang di belakang itu yang besok kita naiki

Beberapa hari sebelumnya kami melakukan reservasi dulu ke Stasiun Bandung. Petugas di situ bilang dia pernah bawa 170 orang muat dalam 1 gerbong tidak terlalu berjejal. Jadi patokannya hanya 340-350 orang yang bisa ikut pergi. Pulang. Tapi foto-foto dulu :)


Besoknya di sekolah dihitung secara global ternyata peserta yang ingin ikut itu jumlahnya sudah 350 orang, belum termasuk guru, dan beberapa anak yang masih menimbang-nimbang, juga orang tua yang tidak tega melepas anaknya sendirian. Maklum Bandung - Purwakarta kan jauh, apalagi bagi anak kelas 1-3 SD. Jadi pasti bertambah. Akhirnya setelah tahan sana tahan sini dipaksa sana dipaksa sini peserta sampai berjumlah 380 orang.

Waktu keberangkatan hari Kamis 28 Maret 2013 diambil karena besoknya libur jadi ada kesempatan buat istirahat. Semua harus ada di sekolah paling siang jam 6.30 supaya bisa jam 7.00 berangkat. Meski kereta Cibatu-Purwakarta sampai stasiun Bandung pukul 8.25 keberangkatan harus lebih awal untuk mengantisipasi kemacetan. Maklum pergi dengan 25 angkot bukan masalah sederhana pengaturannya juga bukan?

Hari H dimulai dengan semangat. Akhirnya kelasku membawa 34 orang dengan 29 anak dan sisanya orang tua dan adik. Kelas lain biarlah urusannya sendiri-sendiri hehe. Kami membariskan anak yang akan berangkat. Pak Asep memberi pengarahan seperlunya, memimpin doa dan memberi aba-aba tiap barisan untuk masuk ke angkot yang sudah tersedia.
 



Pak Asep memberikan pengarahan sebelum berangkat



Kelas 3 masuk ke 2 angkot. Dijejal sih, tapi muat-muat saja tuh. Angkot yang satu diisi murid dengan ortunya. Satu lagi diisi murin yang tidak didampingi ortu dan saya gurunya. 
 
Ibu Bety dan Ibu Wiwin gendong Amira di belakang


Ibu Ida

Ibu Yuli

Ibu Ina yang sudah siap dengan bekalnya

Ibu Eulis sedang motret dipotret

Ibu Ai

Ortu yang merengek minta ikut alasannya anak. Padahal pingin aja naik kereta

Ibu Lia dan Ibu Ai

Sepanjang jalan mereka dengan ikhlas menyanyi nyanyi. Lagu yang kuajarkan di sekolah dinyanyikan semua. Rasanya banyak lagu yang kuajarkan tapi kalau dinyanyikan secara medley kok hanya menjangkau beberapa  ratus meter atau paling-paling 1km an. Dalam hati berjanji akan mengajarkan mereka lebih banyak lagi lagu anak. 





Bersyukur murid kelas 3 tidak ada yang mabuk darat, sehingga semua bisa menikmati perjalanan.

Melihat ini itu murid menunjuk dan memberi cerita, itu... aku pernah ke situ sama ayah atau eh itu rumah sakit deket rumah saudaraku dan seterusnya. Nyanyi lagi.
 
Sampai di Stasiun Bandung Pintu Selatan baru pukul 07.30, masih kepagian. Tapi angkot lain kan belum sampai. Sambil menunggu yang belum datang anak-anak yang sudah datang kami bariskan lalu disuruh duduk di lantai stasiun.




Mini Market di Sebelah Kiri Menerb

Mirip pemudik

Duduk dulu....

Melihat ke sana ke sini, terlihatlah oleh beberapa dari mereka sebuah mini market. Terbitlah keinginan mereka untuk membeli perbekalan yang dirasa kurang. Barisan jadi agak goyang. Kelihatannya seperti pemudik di menjelang lebaran.

Wali kelas 5A panik, sebagian anaknya belum datang. Mereka naik ke satu angkot pertama berangkat tapi belum sampai. Mungkin di stasiun utara, ada pendapat berkata. Atau mogok, pendapat yang lain. Coba ditelepon atau SMS, usul yang bagus. Setelah SMS dan telepon akhirnyaaaaa datang juga. Ternyata angkot itu isi bensin dulu, dan bukannya langsung ke stasiun malah kembali lagi ke sekolah. Sampai di sekolah sudah kosong tidak ada siapa-siapa. Yaiya semua sudah berangkat kan?

Jam 8 lebih petugas datang untuk memberikan pengarahan. Anak-anak berdiri. Setelah pengarahan, satu demi satu barisan digiring masuk ke dalam stasiun. 

Setiap terdengar kereta mau datang, semua berharap kereta itu yang akan membawa kita. Tapi belum  juga. Murid mulai resah, guru-guru juga. Apalagi setelah masuk emplasemen stasiun, tempat yang  paling dekat dengan kereta keresahan makin menjadi. 
 
duduk lagi


sempit emplasemennya


Anak yang mau pipis disuruh pipis dulu di toilet. Letaknya agak jauh, ketika datang kereta yang mau pipis balik lagi. Takut kereta yang datang itu yang akan membawa kita. Tapi bukan. Pergi lagi, karena sudah kebelet.

Akhirnyaa... datang juga kereta yang ditunggu-tunggu. Anak ditertibkan masuk ke dalam kereta. Bukan gerbong. Gerbong itu kereta pengangkut barang. Sedangkan untuk pengangkut orang disebut kereta. Kelas A menempati kereta 1, dan kelas B menempati kereta 2. Penumpang yang lainnya kelihatannya diusir dulu oleh petugas, kan kita sudah reservasi dua kereta. Anak-anak msuk lebih dahulu baru orang tua. Semua setuju, meski ada saja satu dua yang pingin belagak tidak tahu, tapi kemudian menurut karena yang lain memperingatkan. Guru masuk dulu untuk mengatur posisi dan strategi supaya masuk. Orang tua ada yang berdiri ada juga yang duduk. Sebetulnya karena mereka masih kecil-kecil masih longgar juga tidak sampai harus berdiri atau duduk di lantai. Masih mending lah daripada pemudik jaman dulu yang sampai masuk lewat jendela saking penuhnya. 








Bersambung


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar